PERKEMBANGAN MASA PERTENGAHAN DAN AKHIR ANAK-ANAK

A. PERKEMBANGAN FISIK

Masa pertengahan dan akhir anak-anak merupakan periode pertumbuhan fisik yang lambat dan relatif seragam sampai mulai terjadi perubahan-perubahan pubertas, kira-kira 2 tahun menjelang anak matang secara seksual. Berikut ini akan dijelaskan beberapa aspek dari pertumbuhan fisik yang terjadi selama periode akhir anak-anak.

  1. Perubahan Tubuh

Periode masa pertengahan dan akhir anak-anak meliputi pertumbuhan yang lambat dan konsisten. Masa ini adalah suatu periode tenang sebelum pertumbuhan yang cepat menjelang masa remaja.

Aspek-aspek penting perubahan tubuh di dalam periode perkembangan adalah:

1) Sistem-sistem Rangka dan Otot

Selama tahun-tahun sekolah dasar, anak-anak bertumbuh rata-rata 5 hingga 7,6 cm setahun, sehingga pada usia 11 tahun, tinggi rata-rata anak perempuan 147 cm dan tinggi rata-rata anak laki-laki 146 cm. berat anak-anak bertambah rata-rata 2,3 hingga 3,2 kg pertahun berat meningkat terutama karena bertambahnya ukuran system rangka dan otot, serta ukuran beberapa organ tubuh. Bertambahnya kekuatan otot karena factor keturunan dan olahraga.

2) Keterampilan Motorik

Selama masa pertengahan dan akhir anak-anak, perkembangan motorik anak menjadi lebih halus dan lebih terkoordinasi daripada pada masa awal anak-anak. Pada usia 10 hingga 12 tahun, anak-anak mulai memperlihatkan keterampilan-keterampilan manipulatif menyerupai kemampuan-kemampuan orang-orang dewasa. Mereka mulai mampu memperlihatkan gerakan-gerakan yang kompleks, rumit, dan cepat yang diperlukan untuk menghasilkan karya kerajinan yang bermutu bagus atau memainkan lagu sulit dengan instrument musik.

  1. Latihan

Beberapa pakar mengemukakan bahwa televisilah yang secara parsial paling disalahkan atas memburuknya kondisi fisik anak-anak. Menurut suatu investigasi, anak-anak yang jarang menonton televisi fisiknya secara signifikan lebih bugar daripada rekan-rekannya yang sering menonton televisi.

Tidak hanya jadwal pendidikan fisik yang kurang memadai, tetapi mayoritas anak-anak tidak berlatih secara giat bahkan ketika mereka mengikuti pendidikan fisik. Lagipula, kebanyakan orang tua anak-anak tidak memperlihatkan contoh latihan fisik yang baik.

  1. Olahraga

Partisipasi di bidang olahraga dapat memberi konsekuensi positif dan negatif bagi anak-anak. Partisipasi anak-anak di bidang olahraga dapat memberi latihan dan kesempatan untuk belajar bersaing, meningkatkan harga diri, dan memperluas pergaulan dan persahabatan teman-teman sebaya. Tetapi olahraga juga dapat memberi hasil-hasil yang negatif bagi anak-anak. Mereka mengalami terlalu banyak tekanan untuk berprestasi dan menang, cedera fisik, harus bolos dari tugas akademis, dan berusaha memenuhi harapan-harapan yang tidak realistis agar bisa menjadi atlit yang sukses.

Orang-orang dewasa seringkali memberi pandangan yang terdistorsi tentang peran olahraga di dalam kehidupan anak, dengan menerangkan kepada anak-anak bahwa olahraga adalah aspek yang paling penting di dalam kehidupannya.

  1. Stess

Stres adalah suatu tanda waktu. Tidak seorangpun benar-benar mengetahui apakah dewasa ini pengalaman anak-anak lebih menegangkan daripada pengalaman para pendahulu mereka. Tetapi, tampak jelas bahwa penyebab stress itu meningkat.

1) Apa itu Stress?

Stress ialah respons individu terhadap keadaan-keadaan dan peristiwa-peristiwa (disebut “stressor”) yang mengancam individu dan mengurangi kemampuan individu dalam mengatasi segala bentuk stressor.

2) Faktor-faktor Kognitif

Pandangan ini telah disajikan secara lebih jelas oleh peneliti stress Richard Lazarus. Penilaian kognitif (cognitive appraisal) adalah istilah Lazarus yang menjelaskan interpretasi anak-anak terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalam kehidupan mereka sebagai sesuatu yang mengganggu, mengancam, atau menantang, dan determinasi mereka tentang apakah mereka memiliki sarana dan kemampuan untuk menghadapi peristiwa-peristiwa itu secara efektif.

Menurut Lazarus, anak-anak menilai peristiwa-peristiwa dengan dua langkah:

· Penilaian Primer (primary appraisal), anak-anak menginterpretasikan apakah suatu peristiwa itu mengandug kerugian atau kegagalan yang sudah terjadi, suatu ancaman akan suatu kemungkinan bahaya di masa depan, atau suatu tantangan yang harus dihadapi. Kerugian adalah penilaian anak akan kerugian peristiwa yang sudah terjadi. Ancaman ialah penilaian anak akan potensi kerugian masa depan yang disebabkan oleh suatu peristiwa. Tantangan ialah penilaian anak akan peluang untuk mengatasi keadaan-keadaan suatu peristiwa dengan berindak sebaliknya dan pada akhirnya memperoleh keuntungan dari peristiwa itu.

· Secondary Appraisal, anak-anak mengevaluasi sarana dan kemampuan mereka dan menentukan seberapa efektif mereka dapat menghadapi peristiwa itu.

3) Peristiwa-peristiwa Kehidupan dan Percekcokan Sehari-hari

Baru-baru ini para psikolog menekankan bahwa pengalaman kehidupan sehari-hari dan juga peristiwa-peristiwa utama kehidupan dapat menjadi factor-faktor penyebab stress. Tekanan kehidupan keluarga dan kehidupan di dalam kemiskinan yang telah berlangsung lama bukanlah skala peristiwa-peristiwa utama kehidupan pada perkembangan anak-anak, tetapi tekanan yang dialami anak-anak setiap hari dari kondisi-kondisi kehidupan ini dapat menambah tegangnya kehidupan dan pada akhirnya mengakibatkan gangguan atau penyakit kejiwaan (Compas, 1989; Creasy, dkk, 1993; Folkman & Lazarus, 1991).

4) Faktor-faktor Sosial Budaya

Faktor sosial budaya yang terlibat di dalam stress di antaranya adalah:

· Stres Akulturasi

Akulturasi (acculturation) ialah perubahan kebudayaan akibat dari kontak langsung dan terus menerus antara dua kelompok budaya yang berbeda. Stress akulturasi ialah akibat negative dari akulturasi.

· Stres Sosial Ekonomi

Kemiskinan menyebabkan stress yang luar biasa pada anak-anak dan keluarganya (Aber,1993; Belle, 1990; Huston, McLoyd & Coll, dalam proses cetak; McLoyd, 1993; Starwn, 1992). Kondisi-kondisi kehidupan yang kronis seperti perumahan yang buruk, kawasan perumahan yang berbahaya dan masalah ekonomi adalah penyebab stress utama di dalam kehidupan orang-orang miskin.

5) Perisai Pelindung

Emmy Werner dan Ruth Smith (1982) menemukan bahwa anak-anak memperoleh keuntungan yang besar dengan adanya jaringan dukungan kakek/nenek, tetangga, atau saudara-saudara. Banyak contoh menunjukkan bahwa anak-anak yang secara efektif menghadapi stress, ancaman, dan bahaya kesehatan dan kesejahteraan, memiliki beberapa pelindung. Tetapi bila si anak dipaksakan memilih satu factor pelindung yang paling penting dalam menolong anak-anak menyelesaikan masalahnya, menurur Werner adalah relasi dasar terpercaya dengan seorang dewasa. Faktor-faktor perlindungan semacam itu di dalam kehidupan anak-anak berfungsi dengan baik bila perlindungan itu terus berlangsung.

  1. Anak Cacat

Public Law adalah amanat pemerintah federal Amerika Serikat kepada semua Negara bagian untuk mengadakan suatu pendidikan gratis dan sesuai bagi semua anak-anak. Undang-undang ini juga disebut “Undang-undang Pendidikan Bagi Semua Anak Cacat (Education for all Handicapped Children Act)”, disahkan oleh Kongres pada tahun 1975. Pembaruan (mainstreaming) terjadi ketika anak-anak cacat mengikuti pelajaran-pelajaran sekolah umum/regular bersama-sama dengan anak-anak yang tidak cacat. Dengan cara ini anak-anak cacat memasuki mainstreaming pendidikan di sekolah dan tidak terpisah dari murid-murid yang tidak cacat.

Tidak ada perbaikan-perbaikan yang cepat bagi pendidikan anak-anak cacat (Ysseldyke, Algozzine, & Thurlow, 1992). Kemajuan telah dicapai pada tahun-tahun terakhir ini untuk memberi dukungan yang sportif bagi anak-anak cacat, tetapi peningkatan upaya harus dicurahkan bagi pengembangan keterampilan-keterampilan anak-anak cacat (Hynd & Obrzut, 1986). Anak-anak cacat memiliki suatu kemauan yang kuat untuk bertahan hidup, bertumbuh, dan belajar. Mereka berhak memperoleh upaya-upaya didikan terbaik kita (Wood, 1988).

  1. Gangguan Belajar

Anak-anak yang mengalami gangguan belajar (learning disabilities) adalah yang:

1) Tingkat kecerdasannya normal atau di atas normal

2) Memiliki kesulitan-kesulitan di dalam beberapa bidang akademis, tetapi biasanya tidak memperlihatkan kekurangan-kekurangan di bidang lain.

3) Tidak menderita beberapa kondisi atau kelainan lain yang dapat menjelaskan masalah-masalah belajar mereka. (Reid, 198)

  1. Attention-Deficit Hyperactivity Disorder (Hiperaktif)

Ciri kelainan ini berupa suatu rentang perhatian yang pendek, perhatian mudah beralih, dan tingkat kegiatan fisik yang tinggi (Barkeley, 1989; Berman, 1992; O’Connor, Crowll, & Sprafkin, 1993). Singkatnya, anak-anak ini tidak menaruh perhatian dan memiliki kesulitan memusatkan perhatian pada apa yang sedang dilakukannya.

B. PERKEMBANGAN KOGNITIF

  1. Teori Pemikiran Operasional Piaget

Menurut Piaget (1967), pemikiran anak prasekolah adalah praoperasional. Pemikiran praoperasional meliputi pembantukan konsep-konsep yang tetap, penalaran mental, penonjolan sikap egosentrisme, dan pembentukan system-sistem keyakinan gaib.

Pemikiran operasional konkret, menurut Piaget terdiri dari operasi-operasi tindakan-tindakan mental yang memungkinkan anak melakukan secara mental apa yang telah dilakukan sebelumnya secara fisik. Operasi-operasi konkret adalah juga tindakan-tindakan mental yang bertentangan.

  1. Kontribusi dan Kritik

1) Kontribusi

Piaget adalah seorang jenius dalam mengobservasi anak-anak, kehebatan observasinya menunjukkan kepada kita cara-cara yang berdaya cipta untuk melihat bagaimana anak-anak dan bahkan bayi-bayi, bertindak dan menyesuaikan diri dengan dunia mereka. Piaget memperlihatkan kepada kita beberapa hal penting untuk dipertimbangkan di dalam perkembangan kognitif anak-anak, meliputi peralihan dari pemikiran praoperasional ke pemikiran operasional. Ia juga memperlihatkan bahwa kita membuat pengalaman-pengalaman yang sesuai dengan kerangka kognitif kita, tetapi secara serentak menyesuaikan orientasi kognitif kita dengan pengalaman. Piaget juga memperlihatkan perubahan kognitif anak-anak akan terjadi bila situasi-situasi mereka dirancang untuk memungkinkan gerakan berangsur-angsur ke tingkat berikutnya yang lebih tinggi (Beilin, 1992).

2) Kritik

Beberapa kemampuan kognitif muncul lebih awal dari yang diperkirakan Piaget. Kebanyakan ahli perkembangan kontemporer sepakat bahwa perkembangan kognitif anak-anak tidak sebesar tahap seperti pemikiran Piaget. Neo-Piagetians ialah para ahli perkembangan yang mengelaborasikan teori Piaget, yang yakin bahwa dalam banyak aspek perkembangan kognitif anak-anak lebih spesifik daripada yang diperkirakan Piaget (Case, 1987, 1992, 1993; Pascual-Leone, 1987). Kebudayaan dan pendidikan memberi pengaruh-pengaruh yang lebih kuat pada perkembangan anak-anak daripada yang diyakini oleh Piaget.

  1. Pemrosesan Informasi

Meskipun selama periode pertengahan dan periode akhir anak-anak ini tidak terjadi peningkatan yang berarti dalam memori jangka panjang, malah menunjukkan keterbatasan-keterbatasan, namun selama periode ini mereka berusaha mengurangi keterbatasan-keterbatasan tersebut dengan menggunakan apa yang disebut dengan strategi memori (memory strategy), yaitu perilaku yang disengaja digunakan untuk meningkatkan memori.

Matlin (1994) menyebutkan empat macam strategi memori yang penting, yaitu:

· Rehearsal (pengulangan) adalah salah satu strategi meningkatkan memori dengan cara mengulangi berkali-kali informasi setelah informasi tersebut disajikan.

· Organization (organisasi), seperti pengkategorian dan pengelompokan, merupakan strategi memori yang sering digunakan oleh orang dewasa.

· Imagery (perbandingan) adalah tipe dari karakteristik pembayangan dari seseorang (Chaplin, 2002).

· Retrieval (pemunculan kembali) adalah proses mengeluarkan atau mengangkat informasi dari tempat penyimpanan (Chaplin, 2002).

  1. Intelegensi

Adalah kemampuan verbal, keterampilan-keterampilan pemecahan masalah, dan kemampuan untuk belajar dari dan menyesuaikan diri dengan pengalaman hidup sehari-hari.

Intelegensi yang dirumuskan oleh para ahli, secara umum dapat dimasukkan ke dalam salah satu dari tiga klasifikasi berikut:

1) Kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan, beradaptasi dengan situasi-situasi baru atau menghadapi situasi-situasi yang sangat beragam.

2) Kemampuan untuk belajar atau kapasitas untuk menerima pendidikan.

3) Kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menggunakan konsep-konsep abstrak dan menggunakan secara luas symbol-simbol dan konsep-konsep (Phares, 1988).

  1. Kreativitas

Ialah kemampuan untuk memikirkan sesuatu dengan cara-cara yang baru dan tidak biasa dan melahirkan suatu solusi yang unik terhadap masalah-masalah. Definisi sederhana kreativitas adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru. Wujudnya adalah tindakan manusia.

Utami Munandar (1977) melalui penelitiannya di Indonesia, menyebutkan ciri-ciri kepribadian kreatif yang diharapkan oleh bangsa Indonesia, yaitu:

1) Mempunyai daya imajinasi yang kuat

2) Mempunyai inisiatif

3) Mempunyai minat yang luas

4) Mempunyai kebebasan dalam berpikir

5) Bersifat ingin tahu

6) Selalu ingin mendapatkan pengalaman-pengalaman baru

7) Mempunyai kepercayaan diri yang kuat

8) Penuh semangat

9) Berani mengambil resiko

10) Berani mengemukakan pendapat dan memiliki keyakinan (Munandar, 1999).

  1. Pemikiran Kritis

Pemikiran kritis adalah pemahaman atau refleksi terhadap permasalahan secara mendalam, mempertahankan pikiran agar tetap terbuka bagi berbagai pendekatan dan perspektif yang berbeda, tidak mempercayai begitu saja informasi-informasi yang datang dari berbagai sumber (lisan atau tulisan), dan berpikir secara reflektif dan evaluatif.

Seorang pakar psikologi kognitif, Robert J. Sternber memberikan beberapa usulan untuk mengembangkan pemikiran kritis anak, yaitu:

1) Mengajarkan anak menggunakan proses-proses berpikir yang benar

2) Mengembangkan strategi-strategi pemecahan masalah

3) Meningkatkan gambaran mental mereka

4) Memperluas landasan pengetahuan mereka

5) Memotivasi anak untuk menggunakan keterampilan-keterampilan berpikir yang baru saja dipelajari.

Untuk berpikir secara kritis , anak-anak harus mengambil peran yang aktif di dalam belajar. Ini berarti bahwa anak-anak perlu mengembangkan berbagai proses-proses berpikir yang aktif, seperti di bawah ini:

1) Mendengarkan secara seksama

2) Mengidentifikasi atau merumuskan pertanyaan-pertanyaan

3) Mengorganisasikan pemikiran-pemikiran mereka

4) Memperhatikan persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan.

5) Melakukan deduksi (penalaran dari umum ke spesifik)

6) Membedakan antara kesimpulan-kesimpulan yang secara logika valid dan tidak valid.

  1. Kecerdasan Emosional

Daniel Golaman mengklasifikasikan kecerdasan emosional atas lima komponen penting, yaitu:

1) Mengenali Emosi Diri

Yaitu mengetahui apa yang dirasakan seseorang pada suatu saat dan menggunakannya untuk memandu pengambilan keputusan diri sendiri, memiliki tolok ukur yang realistis atas kemampuan diri dan kepercayaan diri yang kuat.

2) Mengelola emosi

Yaitu menangani emosi sendiri agar berdampak positif bagi pelaksanaan tugas, peka terhadap kata hati dan sanggup menunda kenikmatan sebelum tercapainya satu tujuan, serta mampu menetralisir tekanan emosi.

3) Motivasi Diri

Yaitu menggunakan hasrat yang paling dalam untuk menggerakkan dan menuntun manusi menuju sasaran, membantu mengambil inisiatif dan bertindak sangat efektif serta bertahan menghadapi kegagalan dan frustasi.

4) Mengenali Emosi Orang Lain

Yaitu kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain, mampu memahami perspektif mereka, menumbuhkan hubungan saling percaya dan menyelaraskan diri dengan orang banyak atau masyarakat.

5) Membina Hubungan

Yaitu kemampuan mengendalikan dan menangani emosi dengan baik ketika berhubungan dengan orang lain, cermat membaca situasi dan jaringan social, berinteraksi dengan lancer, memahami dan bertindak bijaksana dalam hubungan antar manusia.

  1. Kecerdasan Spiritual

Zohar dan Marshall menjelaskan bahwa SQ adalah landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. Beberapa ungkapan Zohar dan Marshall sendiri, diantaranya:

1) SQ adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan masalah makna dan nilai.

2) SQ adalah kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup manusia dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya.

3) SQ adalah kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain.

4) SQ adalah kecerdasan yang tidak hanya untuk mengetahui nilai-nilai yang ada, tetapi juga untuk secara kreatif menemukan nilai-nilai baru.

  1. Bahasa

Selama masa akhir anak-anak, perkembangan bahasa terus berlanjut. Perbendaharaan kosa kata anak meningkat dan cara anak-anak menggunakan kata dan kalimat bertambah kompleks serta lebih menyerupai bahasa orang dewasa. Dari berbagai pelajaran yang diberikan di sekolah, bacaan, pembicaraan dengan anak-anak lain, serta melalui radio dan televise, anak-anak menambah perbendaharaan kosa kata yang ia pergunakan dalam percakapan dan tulisan.

  1. Prestasi

Minat awal yang dirangsang oleh gagasan-gagasan McClelland, berfokus pada kebutuhan akan prestasi. Gagasan-gagasan kontemporer meliputi perbedaan antara motivasi intrinsic dan ekstrinsik, orientasi kemampuan versus orientasi tidak berdaya, juga suatu keprihatinan akan motivasi prestasi anak-anak kelompok-kelompok minoritas etnis.

C. PERKEMBANGAN PSIKOLSOSIAL

  1. Persepsi Anak Tentang Moral

Anak-anak sekolah dasar sungguh mengerti ketidakadilan dan seringkali mempunyai solusi-solusi yang menarik terhadap berbagai masalah. Secara keseluruhan, tipe-tipe peraturan yang diyakini oleh anak-anak harus dipatuhi masyarakat adalah sangat bijaksana, hamper semuanya mencakup perlunya berbagi sumber-sumber dan pekerjaan secara adil serta larangan-larangan terhadap agresi.

  1. Keluarga

Ketika anak memasuki masa pertengahan dan akhir anak-anak, para orang tua hanya memberi sedikit waktunya untuk mereka. Meskipun terjadinya pengurangan pengawasan dari orang tua terhadap anaknya selama masa pertengahan dan akhir anak-anak ini, bukan berarti orang tua sama sekali melepaskan mereka. Sebaliknya, orang tua masih terus memonitor usaha-usaha yang dilakukan anak dalam memelihara diri mereka, sekalipun secara tidak langsung.

  1. Relasi Dengan Teman Sebaya

Selama masa pertengahan dan akhir anak-anak, anak-anak meluangkan banyak waktunya dalam berinteraksi dengan teman sebaya.

1) Pembentukan Kelompok

Interaksi dengan teman sebaya dari kebanyakan anak pada periode ini terjadi dalam grup atau kelompok, sehingga periode ini sering disebut “usia kelompok”. Pada masa ini, anak tidak lagi puas bermain sendirian di rumah, atau melakukan kegiatan-kegiatan dengan anggota keluarga. Hal ini adalah karena anak memiliki keinginan yang kuat untuk diterima sebagai anggota kelompok, serta merasa tidak puas bila tidak bersama teman-temannya.

2) Popularitas, Penerimaan Sosial dan Penolakan

Para peneliti membedakan anak-anak atas dua, yaitu:

· Anak yang Populer

Hartup (1983) mencatat bahwa anak yang populer adalah anak yang ramah, suka bergaul, bersahabat, sangat peka secara social, dan sangat mudah bekerja sama denga orang lain.

· Anak yang Tidak Populer

Dibedakan atas dua tipe, yaitu: Pertama, anak-anak yang ditolak (rejected children) adalah anak-anak yang tidak disukai oleh teman-teman sebaya mereka, mereka cenderung lebih bersifat mengganggu dan agresif dibandingkan anak-anak yang diabaikan. Kedua, anak-anak yang diabaikan (neglected children) adalah anak yang menerima sedikit perhatian dari teman-temannya, tetapi bukan berarti mereka tidak disenangi oleh teman-teman sebayanya.

  1. Sekolah

Di samping keluarga dan teman sebaya, sekolah juga mempunyai pengaruh yang sangat penting bagi perkembangan selama masa pertengahan dan akhir anak-anak. Menurut Seifert dan Hoffnung (1994), sekolah mempengaruhi perkembangan anak melalui dua kurikulum, yaitu :

1) Academic Curriculum, meliputi sejumlah kewajiban yang diharapkan dikuasai oleh anak.

2) Hidden Curriculum, meliputi sejumlah norma, harapan, dan penghargaan yang implicit untuk dipikirkan dan dilaksanakan dengan cara-cara tertentu yang disampaikan melalui hubungan social sekolah dan otoritas.

  1. Pemahaman Diri

Menurut Seifert dan Hoffnung (1994), pemahaman diri sering juga disebut konsep diri, yaitu suatu pemahaman mengenai diri atau ide tentang diri sendiri.

Atwater (1987), mengidentifikasi konsep diri atas tiga bentuk:

1) Body image, kesadaran tentang tubuhnya, yaitu bagaimana seseorang melihat dirinya sendiri.

2) Ideal self, yaitu bagaimana cita-cita dan harapan-harapan seseorang mengenai dirinya.

3) Social self, yaitu bagaimana orang lain melihat dirinya.

Pada usia sekolah dasar, pemahaman diri atau konsep diri mengalami perubahan yang sangat pesat. Menurut Santrock (1995), perubahan ini dapat dilihat sekurang-kurangnya dari tiga karakteristik pemahaman diiri, yaitu:

1) Karakteristik internal

2) Karakteristik aspek-aspek sosial

3) Karakteristik perbandingan social

  1. Gender

Gender adalah suatu aspek identitas individu yang sangat penting. Topic-topik yang berkaitan dengan gender ialah stereotip, persamaan dan perbedaan gender, klasifikasi gender, serta gender dan etnisitas. Stereotip peran Gender adalah kategori-kategori luas yang mencerminkan kesan-kesan dan kepercayaan kita tentang perempuan dan laki-laki.

  1. Perkembangan Moral

Menurut Piaget, anak-anak yang lebih tua yang memperhitungkan maksud-maksud individu percaya bahwa aturan dapat berubah, dan sadar bahwa hukuman tidak selalu menyertai suatu perbuatan yang salah.

Perspektif kognitif penting kedua dalam perkembangan moral dikemukakan oleh Lawrence Kohlberg. Kohlberg menekankan bahwa perkembangan moral didasarkan terutama pada penalaran moral dan berkembang secara bertahap.

You can leave a response, or trackback from your own site.

0 Response to "PERKEMBANGAN MASA PERTENGAHAN DAN AKHIR ANAK-ANAK"

Poskan Komentar

Powered by Blogger